Sunday, February 27, 2011

Mobil Tanpa Supir

Tekonologi modern dunia otomotif telah mengambil langkah yang lebih jauh dengan menciptakan teknologi driveless car yang memungkinkan pengemudi mengendarai mobil tanpa kontak langsung dengan kemudinya. Dengan kemajuan ini tentunya akan membuat kehidupan semua orang menjadi lebih mudah.

Ketika mobil otomatis diujicobakan, hasilnya sangat memuaskan. Namun terlepas dari kecanggihan teknologi itu, mobil otomatis ini juga pastinya memiliki kekurangan.

Mengendarai mobil tak semudah yang dibayangkan, walaupun menggunakan mobil otomatis. Tentunya diperlukan juga sumberdaya manusia untuk mengendalikannya. Mesin tetaplah mesin, yang tetap membutuhkan seorang operator untuk mengendalikannya. Pada Selasa, 17 April 2012, Automotto.com, menjelaskan kekurangan dan kelebihan pada mobil otomatis ini.

Beberapa mobil prototipe mobil otomatis memang telah diperkenalkan bahkan diujicobakan. Baru-baru ini pemerintah kota Nevada, Amerika Serikat ikut mendukung program ini dengan memperbolehkan jalan raya di kota tersebut untuk digunakan sebagai ajang pengujian kendaraan-kendaraan otomatis. Berikut ini kami memberikan contoh empat jenis mobil otomatis yang telah dikembangkan.

1. Google Driverless Car

Teknologi mobil otomatis dari Google ini dapat menjadi kemajuan yang sangat baik bagi masa depan dunia otomotif. Beberapa tahun lalu, perusahaan teknologi Internet yang paling populer ini telah mengujicobakan sistem ini di tujuh kendaraan yang berbeda dan mampu berjalan sejauh 140.000 mil.

Mobil ujicoba yang terdiri dari Audi TT dan enam Toyota Prius Hybrid, dilengkapi dengan teknologi yang menggunakan radar, video, GPS Cams, dan Laser. Mobil-mobil tersebut juga ditambahkan sensor-sensor berputar yang bisa melihat 360 derajat untuk jarak 200 kaki. Sebuah sensornya akan membuat peta tiga dimensi dari lokasi kendaraan yang diumpankan ke sensor lainnya pada roda kiri mobil ujicoba.

Sebuah kamera video terpasang pada kaca depan untuk mengirimkan informasi mengenai rintangan, pejalan kaki, dan lampu lalu lintas ke dalam komputer di dalamnya. Radar sensor di bagian depan dan belakang juga membarikan informasi mengenai hambatan lainnya, sementara GPS, sensor gerak inersia, dan berbagai finderlaser akan melakukan sisanya.

Menurut Google, teknologi ini juga membantu mobil-mobil ujicoba itu untuk bernavigasi di medan yang menantang seperti pegunungan. Dengan pengemudi yang terlatih dan operator perangkat lunak yang mengawasi prosesnya, mobil otomatis ini bisa menjadi sesuatu yang paling menarik ditunggu.

2. Dennis Hong's Driverless Car.

Seperti Google, yang lain juga telah sibuk mengembangkan sistem mengemudi otomatis. Seorang ahli teknik mesin dari Virginia Tech, Dennis Hong bersama timnya, juga mengembangkan sebuah prototipe kendaraandriverless untuk DARPA Urban Challenge. Tujuannya utuk membangun mobil bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti buta dan cacat lainnya. Mobil ini dapat diprogram untuk melakukan perjalanan ke tujuan tertentu dan hanya memerlukan sedikit sekali bantuan dari pengemudinya.

Perusahaan pengembang teknologi robot, TORC, juga bekerjasama dengan Hong untuk NFB Blind Driver Challenge, sebuah kompetisi yang menampilkan kendaraan untuk digunakan orang buta. Hasilnya adalah sebuah prototipe mobil yang menggunakan sensor dan persepsi untuk kaum tunanetra agar dapat berinteraksi melalui antarmuka non-visual seperti sarung tangan getar yang menginformasikan mengenai kemudi, perangkat getar lain untuk informasi kecepatan, dan sistem yang menggunakan pola aliran udara terkompresi untuk menghasilkan gambar.

3. Free University Driverless Car

Para peneliti dari Free University di Berlin, Jerman, juga mengembangkan kendaraan driverless yang diujicobakan di jalan-jalan ibukota. Mobil Volkswagen Passat yang dijadikan percobaan dioperasikan menggunakan sistem berteknologi tinggi dari satnav, elektronik, komputer, scanner, laser, dan kamera. Seperti teknologi lain yang dikembangkan Google dan Dennis Hong, teknologi dari Jerman ini bisa melihat rintangan, pejalan kaki, dan pohon serta bereaksi terhadap lampu lalu lintas.

Menurut kepala tim penelitian dari universitas ini, Raul Rojas, mobil ini bereaksi lebih cepat dengan lingkungannya daripada manusia. Rojas juga mengatakan bahwa teknologi ini tentunya akan membuat mengemudi di masa depan menjadi lebih aman. Tetapi masalahnya adalah jika kecelakaan terjadi, siapakah yang akan disalahkan? Pengemudi ataukah pembuat teknologinya?

4. BMW's New Driverless Car

Perusahaan otomotif asal Jerman juga tak mau ketinggalan. Mereka telah menguji teknologi driverless atau kemudi otomatis, dan sistemnya bekerja dengan baik. Mereka mencoba teknologi ini pada sebuah mobil tanpa pengemudi yang diprogram untuk melintasi jalanan antara kota Munich dan Nuremberg. BMW memanfaatkan sistem seperti cruise control untuk memonitor lalu lintas, satnav, lane departure warning, dan kamera belakang. Satu-satunya peran pengemudi di sini adalah ketika sistem kehilangan arah atau ketika tidak bisa membuat perhitungan lebih lanjut.

Meskipun sangat berguna, BMW mengatakan bahwa teknologi semacam ini tidak akan bisa diproduksi massal untuk masyarakat hingga beberapa dekade lagi. Hingga saat itu tiba, teknologi ini akan berkembang lebih jauh lagi dan sistem navigasinya akan mampu mendeteksi hambatan di sekitarnya seperti pekerjaaan jalan, peringatan batas kecepatan, dan zona sekolah.

Masa depan:
Setelah disempurnakan, teknologi driverless akan sangat membantu pengendara untuk berkendara dengan aman. Hal ini khususnya sangat bermanfaat bagi orang-orang tua dan juga orang-orang dengan keterbatasan fisik. Melihat jumlah kecelakaan yang sebagian besarnya disebabkan oleh human error, sistem ini diharapkan mampu menyelamatkan jutaan nyawa. Teknologi juga dapat membantu sistem transportasi agar lebih efisien karena disinkronkan dengan lalu lintas sehingga dapat mengurangi kemacetan.

Permasalahan:
Meskipun banyak keuntungan yang didapatkan dari sistem driverless atau kemudi otomatis ini, hal yang menjadi hambatan adalah masalah teknis dan kerusakan sistemnya sendiri. Komputer memang diketahui mampu bereaksi lebih cepat dan lebih cerdas dari otak manusia, tetapi komputer tetaplah barang elektronik yang bergantung pada fungsi yang tepat untuk bekerja dengan baik. Jika ada sesuatu yang tidak beres dari fungsinya, maka tak pelak itu dapat menyebabkan bencana bagi pengguna. Dengan demikian, Jika teknologi driverlessbenar-benar menjadi kenyataan, maka akan dibutuhkan analisis secara detail akan kesiapan seluruh fungsinya agar tak menyebabkan kesalahan fatal saat dikendarai.